FDIK is the Best dan Ikhtiar Membangun Peradaban Akademik

Penulis:

Dr. Icol Dianto, S.Sos.I., M.Kom.I

Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan, Alumni, dan Kerjasama

FDIK UIN Syahada Padangsidimpuan

Periode 2026-2030.

Bermula ketika kunjungan kelembagaan ke Universiti Kebangsaan Malaysia, 26 Juni 2026 hingga 5 Juli 2026, Dr. Lis Yulianti Syafrida Siregar, S.Psi, M.A. selaku Dekan Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi Universitas Islam Negeri Syekh Ali Hasan Ahmad Addary Padangsidimpuan bercerita agar FDIK memiliki motto seperti kampus luar. Menanggapi hal itu, Dr. Icol Dianto, S.Sos.I., M.Kom.I yang turut dalam kunjungan itu menyahuti bahwa FDIK sudah punya motto, seperti FDIK is the Best.

Dekan mengusulkan Best itu Berakhlak, Energik, Semangat, Terdepan. Kemudian, gagasan Dekan itu terus direnungkan dan dioperasionalkan agar sesuai dengan visi universitas, dan sesuai juga akronimnya. Sehingga pada puncaknya, FDIK is the Best adalah FDIK yang didasarkan pada Islamic Theology yang memiliki nilai budaya akademik Berakhlak, Energik, Smart, dan Terdepan.

——————- Malaysia, 1 Juli 2026.

Derasnya arus perubahan pendidikan tinggi, banyak perguruan tinggi berlomba-lomba menciptakan slogan yang terdengar menarik. Hampir setiap kampus memiliki jargon, moto, atau semboyan yang dikumandangkan dalam berbagai forum akademik. Sayangnya, tidak semua slogan memiliki umur panjang. Sebagian berhenti sebagai rangkaian kata yang menghiasi baliho, dinding gedung, atau pembuka sambutan para pimpinan. Ia diingat ketika dibutuhkan, tetapi tidak benar-benar hidup dalam perilaku organisasi.

Padahal sejarah organisasi besar menunjukkan bahwa kekuatan sebuah institusi justru terletak pada kemampuannya mentransformasikan slogan menjadi budaya. Budaya adalah nilai yang terus dihidupkan, diwariskan, dan dijadikan rujukan dalam setiap keputusan. Ketika sebuah slogan berhasil menjadi budaya, ia tidak lagi bergantung pada siapa yang memimpin organisasi. Ia telah menjelma menjadi identitas kolektif.

Pengalaman Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi (FDIK) UIN Syekh Ali Hasan Ahmad Addary (FDIK UIN SYAHADA) Padangsidimpuan menawarkan pelajaran menarik mengenai pentingnya kesinambungan budaya kelembagaan. Selama lebih dari delapan tahun, melintasi dua periode kepemimpinan dekan fakultas, satu jargon terus dipertahankan, yaitu FDIK is the Best.

Jargon FDIK is the Best ini mulai dibudayakan pada masa kepemimpinan Dekan FDIK UIN Syahada Dr. Ali Sati, M.Ag., periode kepemimpinan 2018-2022, idiom ini sebagai ikhtiar membangun optimisme sekaligus identitas fakultas. Penulis ingat betul, ketika acara pisah sambut Dr. Ali Sati, M.Ag sebagai dekan. Beberapa fakultas memiliki jargon, dan beliau menawarkan Fakultas Dakwah dengan sebutan FDIK is the Best.

Pada periode berikutnya, kepemimpinan Dr. Magdalena, M.Ag., sebagai dekan fakultas, slogan FDIK is the Best tetap dipelihara sebagai bagian dari kesinambungan budaya organisasi. Keberlanjutan ini penting karena menunjukkan bahwa membangun lembaga tidak selalu harus dimulai dari sesuatu yang baru; sering kali kemajuan justru lahir dari kemampuan merawat nilai-nilai baik yang telah diwariskan.

Transformasi paling menarik terjadi pada masa kepemimpinan Dr. Lis Yulianti Syafrida Siregar, S.Psi., M.A.. Pada periode ini, “FDIK is the Best” tidak lagi dipahami sekadar sebagai slogan motivasional, melainkan dirumuskan sebagai seperangkat nilai inti (core values) yang menjadi arah pembangunan budaya organisasi. Slogan itu memperoleh makna filosofis yang memberi orientasi terhadap cara berpikir, cara bekerja, dan cita-cita kelembagaan.

Pemaknaan tersebut dimulai dari frasa “is the”, yang dimaknai sebagai Islamic Theology. Pilihan ini bukan sekadar permainan kata, melainkan penegasan bahwa Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi UIN Syahada Padangsidimpuan memiliki satu rumah besar keilmuan, yakni teologi Islam. Islamic Theology diposisikan sebagai rumah utama, pondasi utama, sekaligus rumah ilmu tempat seluruh aktivitas akademik bertumpu.

Makna ini penting, sebab perguruan tinggi Islam tidak cukup hanya mengajarkan ilmu-ilmu keislaman. Ia harus membangun cara pandang bahwa ilmu pengetahuan, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, tata kelola kelembagaan, hingga pengembangan sumber daya manusia berangkat dari kesadaran teologis. Keilmuan tidak boleh tercerabut dari nilai, sebagaimana nilai tidak boleh berhenti sebagai dogma yang jauh dari realitas sosial.

Di sinilah Islamic Theology menemukan relevansinya dengan paradigma keilmuan UIN Syahada, yaitu paradigma teoantropoekosentris (al-ilāhiyyah, al-insāniyyah, al-kauniyyah). Paradigma teoantropoekosentris mengintegrasikan tiga orientasi sekaligus yaitu ketuhanan sebagai sumber nilai, kemanusiaan sebagai orientasi pengabdian, dan alam semesta sebagai ruang tanggung jawab. Ilmu bukan hanya diarahkan untuk menghasilkan lulusan yang cerdas, tetapi juga manusia yang mampu menghadirkan kemaslahatan bagi kehidupan.

Fondasi keilmuan tersebut kemudian diterjemahkan ke dalam empat karakter utama yang membentuk kata BEST, yaitu Huruf B adalah Berakhlak. Inilah pondasi karakter, jawaban atas pertanyaan paling mendasar dalam kehidupan organisasi yaitu Who We Are? Sebuah institusi pendidikan tidak diukur semata-mata dari jumlah profesor, banyaknya publikasi ilmiah, atau megahnya bangunan. Yang lebih mendasar adalah karakter orang-orang yang menghidupinya. Berakhlak berarti menjadikan integritas, kejujuran, amanah, disiplin, empati, dan keteladanan sebagai identitas akademik. Dalam dunia yang sering mengagungkan kecerdasan, Slogan FDIK is the Best mengingatkan bahwa kecerdasan tanpa akhlak hanya akan melahirkan kemampuan yang kehilangan arah moral.

Huruf E berarti Energik. Ini adalah daya gerak organisasi, jawaban atas pertanyaan: How We Move? Budaya organisasi tidak dibangun oleh orang-orang yang puas pada keadaan. Ia lahir dari energi perubahan. Energik berarti memiliki etos kerja, keberanian berinovasi, semangat melayani, kemampuan beradaptasi, dan kemauan terus belajar. Fakultas yang energik tidak menunggu perubahan datang, tetapi aktif menciptakan perubahan. Ia menjadikan tantangan sebagai ruang pembelajaran, bukan alasan untuk berhenti bergerak.

Huruf S adalah Smart, yakni kualitas cara berpikir, atau How We Think? Dalam era kecerdasan artifisial, digitalisasi, dan disrupsi informasi, kecerdasan tidak lagi cukup dimaknai sebagai kemampuan menghafal pengetahuan. Smart berarti kemampuan berpikir kritis, kreatif, kolaboratif, komunikatif, dan reflektif. Ia mengintegrasikan kecerdasan intelektual, emosional, spiritual, sosial, bahkan digital. Smart berarti civitas akademia FDIK UIN Syahada Padangsidimpuan dituntut melahirkan insan yang mampu membaca teks sekaligus konteks, menguasai teknologi tanpa kehilangan nilai, serta mampu berdialog dengan dunia tanpa kehilangan jati dirinya.

Huruf terakhir, T, berarti Terdepan. Inilah arah perjalanan organisasi, jawaban atas pertanyaan Where We Go? Terdepan bukan berarti merasa paling hebat, menjadi terdepan adalah kesediaan untuk terus memperbaiki diri, menjadi pelopor inovasi, memperkuat kolaborasi, meningkatkan mutu layanan, memperluas jejaring internasional, serta menghasilkan karya yang memberi manfaat bagi masyarakat. Keunggulan bukanlah status yang selesai dicapai melainkan proses yang terus diperjuangkan.

Apabila dirangkai, filosofi ini membentuk sebuah bangunan nilai yang utuh. Islamic Theology menjadi fondasi epistemologis. Berakhlak membentuk identitas moral. Energik menggerakkan budaya kerja. Smart membangun budaya berpikir. Terdepan mengarahkan seluruh kekuatan dan peluang organisasi menuju masa depan yang cemerlang.

Konstruksi nilai dari FDIK is the Best ini memiliki koherensi yang kuat dengan visi UIN Syahada Padangsidimpuan untuk menjadi universitas Islam bertaraf internasional yang mengembangkan paradigma keilmuan teoantropoekosentris dalam membangun masyarakat yang saleh, moderat, cerdas, dan unggul.

Nilai Islamic Theology merupakan pengejawantahan dimensi al-ilāhiyyah dari Teoantropoekosentris, yakni menempatkan nilai ketuhanan sebagai dasar seluruh aktivitas akademik. Berakhlak menjadi fondasi lahirnya masyarakat yang saleh. Energik menghadirkan daya juang untuk menjawab perubahan global. Smart melahirkan insan yang cerdas, terbuka, dan adaptif. Sementara Terdepan merupakan orientasi menuju keunggulan institusi yang mampu berkompetisi pada tingkat nasional maupun internasional.

Nilai-nilai yang melekat pada jargon FDIK is the Best memperkuat semangat moderasi yang menjadi karakter pendidikan tinggi Islam dewasa ini. Moderasi tidak cukup diajarkan sebagai mata kuliah tetapi harus menjadi budaya kelembagaan. Budaya itu lahir ketika keislaman dipadukan dengan akhlak, energi perubahan, kecerdasan, dan orientasi pada kemajuan.

Saya kira di sinilah makna terdalam sebuah slogan. Ia bukan sekadar kalimat yang mudah diingat, melainkan perangkat nilai yang membentuk perilaku organisasi. Edgar H. Schein, salah seorang pemikir terkemuka tentang budaya organisasi, menyebut bahwa budaya yang kuat lahir ketika nilai-nilai bersama terus diwariskan hingga menjadi asumsi dasar yang mengarahkan cara berpikir dan bertindak anggota organisasi. Dengan ukuran itu, keberhasilan sebuah slogan tidak diukur dari seberapa sering ia diucapkan, melainkan dari seberapa jauh ia memengaruhi keputusan, kebijakan, dan perilaku keseharian.

Akhir kata, sebuah fakultas tidak dikenang hanya karena gedungnya, akreditasinya, atau jumlah mahasiswanya. Ia dikenang karena nilai yang diwariskannya kepada setiap orang yang pernah belajar, bekerja, dan bertumbuh di dalamnya. Ketika sebuah slogan berhasil menjelma menjadi budaya akademik, ia tidak lagi menjadi milik seorang dekan atau satu periode kepemimpinan semata. Ia menjadi milik seluruh sivitas akademika dan menjadi bagian dari identitas fakultas.

Dalam perspektif itulah, FDIK is the Best menemukan maknanya yang paling hakiki. FDIK is the Best bukan sekadar pernyataan tentang keunggulan melainkan komitmen kolektif untuk membangun rumah ilmu yang berlandaskan Islamic Theology, melahirkan insan yang Berakhlak, bergerak secara Energik, berpikir Smart, dan terus melangkah untuk menjadi yang Terdepan. Sebuah komitmen yang apabila dijaga secara konsisten bukan hanya akan memperkuat budaya akademia Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi UIN Syahada Padangsidimpuan. Akan tetapi, nilai FDIK is the Best menjadi kontribusi nyata dalam mewujudkan visi UIN Syekh Ali Hasan Ahmad Addary Padangsidimpuan sebagai universitas Islam bertaraf internasional dengan paradigma keilmuan Teoantropoekosentris dalam ikhtiarnya membangun masyarakat yang saleh, moderat, cerdas, dan unggul.

Wallahu a’lam bishawab.